Sinopsis Film Soegija (Movie Trailer)

Sinopsis Film Soegija (Movie Trailer)

Dibalik Layar Film Soegija

Garin Nugroho selama dikenal sebagai salah satu sutradara yang memiliki standart dalam pembuatan karyanya. Tidak sedikit orang pun tidak mengerti maksud sang sineas dalam penyampaian karya filmnya itu.


Namun di film terbarunya berjudul Soegija, Garin mengakui bahwa ia telah membuat karya yang mudah dimengerti oleh siapapun. Menurut Garin dirinya telah bertobat dalam membuat film yang idealis.

"Ini film yang bikin saya 'insaf' kembali ke jalan yang benar, membuat film yang bisa dijadikan hiburan, tapi dikerjakan secara sungguh-sungguh, dan bukan untuk mendangkalkan penonton," Jelas Garin Nugroho saat ketemu di XXI Epicentrum.

Selain sangat hati-hati dalam membuat film, Garin juga dikenal hemat jika memproduksi sebuah film. Maka tidak heran jika Soegija adalah film termahal Garin selama berkarir sebagai sutradara.

"Ini film termahal saya, karena untuk mendapatkan perlengkapan yang sesuai dengan setting tahun 1940 atau masa kemerdekaan itu sangat besar," tambah Garin.

Film Soegija diketahui menghabiskan dana mencapai Rp. 12 Miliar, dan melibatka 2275 pemain. Film yang mengambil lokasi syuting di Semarang Jawa Tengah itu mengambil setting tahun 1940-1949 atau saat era perang Kemerdekaan.


Sinopsis / Info Film Soegija


Soegija sendiri bercerita tentang perjuangan Soegijapranata yang melakukan perjuangan melalui cara Silent Diplomacy dengan menulis kepada media internasional terhadap penjajahan Belanda. 
Film Soegija

Soegijapranata juga adalah Uskup pribumi pertama yang menjabat sebagai Uskup. Dimana jabatan itu adalah hal yang sulit di dapatkan pada era Kemerdekaan. Saat itu seorang Uskup harus berasal dari kaum kulit putih atau Eropa. Soegija direncanakan akan tayang di bioskop pada 7 Juni 2012. (RIO)

Film ini diproduksi dengan format film perjuangan yang mengambil cerita dari catatan harian tokoh Pahlawan Nasional Mgr. Soegijapranata, SJ dengan mengambil latar belakang Perang Kemerdekaan Indonesia dan pendirian Republik Indonesia Serikat pada periode tahun 1947 – 1949.

 Disutradarai oleh Garin Nugroho film ini mengambil latar daerah Yogyakarta dan Semarang. Film ini juga menampilkan tokoh-tokoh nasional Indonesia lain, seperti Soekarno, Fatmawati, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Sri Paku Alam VIII, Jenderal Soedirman, Soeharto, dll.

Untuk bisa menggambarkan pengalaman Soegija, film ini banyak menampilkan tokoh-tokoh nyata tapi difiksikan baik dari Indonesia, Jepang, Belanda, sipil maupun militer dalam peristiwa-peristiwa keseharian yang direkonstruksi dengan cukup detil. Kesemuanya menekankan bahwa kemanusiaan lah yang unggul.

 Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.

Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).

Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.

Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.


Article Information



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Simpel News, Published at 08.46 and have 0 komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar