Kronologis Warga Menyandera Polisi di Sumatera Barat

Kronologis Warga Menyandera Polisi di Sumatera Barat


Kronologis Warga Menyandera Polisi di Sumatera Barat - Bagi Snipers yang menyaksikan acara berita di TV mengenai perselisihan yang terjadi antara warga (penambang liar) VS Polisi yang tidak terima atas tindakan polisi yang melarang warga melakukan penambangan liar. Sampai-sampai warga menyandera Kapolres setempat. Namun setelah itu 65 warga ditangkap.


Kapolres Dhamasraya Disandera Warga

Penyebab Penyanderaan

Sebelum penyanderaan Kapolres, polisi menangkap dua penambang liar pada Sabtu (24/11) lalu. Penangkapan tersebut berbuah kemarahan penambang lain. Akibatnya, penambang menyandera kapolres saat rombongan kapolres datang meninjau lokasi kejadian.(TII)

Kapolres Dharmasraya, Ajun Komisaris Besar Khairul Aziz, sempat disandera ratusan penambang emas liar di Jorong Sitiung V, Nagari Koto Padang, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, mulai Sabtu (24/11/2012) sore hingga malam hari.

Khairul baru dibebaskan dari penyanderaan warga sekitar pukul 21.00 WIB, setelah proses negosiasi dengan para penambang.

Pada Minggu (25/11/2012) ini, Khairul memberikan taklimat kepada ratusan anggota Brimob Polda Sumbar dan anggota polisi bantuan dari sejumlah polres yang berdekatan dengan Dharmasraya, dalam apel siaga di Markas Polres Dharmasraya.

Dalam taklimat itu Khairul mengatakan, penyanderaan dirinya diawali pengepungan yang dilakukan sejumlah penambang terhadap Kapolsek Koto Baru Inspektur Satu  Yana Jaya Widya.

Yana dikepung karena hendak mengambil barang bukti dugan penambangan emas liar. "Kapolsek sudah mendapatkan tersangka, namun masih perlu memperoleh barang bukti sehingga masuk lagi ke dalam lokasi," kata Khairul.

Sampai di lokasi, Yana dikepung sejumlah penambang. Ia kemudian mengirimkan SMS pada Khairul untuk meminta bantuan.

Bersama 15 anggota Polres Dharmasraya, Khairul lalu menuju lokasi untuk membebaskan Yana dan anak buahnya. Namun, Khairul juga ikut dikejar dan disandera.

Baru sekitar pukul 17.30 WIB, kata Khairul, ia berhasil melepaskan diri dari kejaran dan beroleh sinyal seluler untuk mengirim pesan singkat SMS. "Saya akhirnya dapat sinyal dan lalu mengirim SMS kepada Kapolres Sijunjung, Kasat Brimob Polda Sumbar, dan Kapolda Sumbar untuk meminta bantuan," katanya.  

Sebanyak 65 penambang emas ilegal (pendompeng), diamankan polisi pascapenyanderaan dan pengeroyokan terhadap Kapolres Dhamasraya, Sumatera Barat, AKBP Khairul Aziz.

Para penambang, warga Jorong Aur Jaya, Nagari Koto Padang, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dhamasraya itu ditangkap saat bersembunyi di rumah-rumah warga dan di bus-bus. Mereka lari dari kejaran petugas gabungan dari Polres Dhamasraya, Sijunjung, dan dua pleton Brimob Polda Sumbar.

Polisi sudah menetapkan tiga dari 65 warga tersebut sebagai tersangka. Tiga orang tersebut bertindak sebagai provokator yang berujung kepada penganiayaan kapolres.

Satu per satu warga digiring dari rumah-rumah dan dibawa menuju truk Dalmas. Sesekali suara tembakan terdengar sebagai peringatan agar mereka menyerahkan diri.

Pascakejadian tersebut, polisi melakukan razia. Selain mendatangi rumah-rumah warga, polisi juga memberhentikan bus-bus di jalan dan mendatangi terminal. Diduga, para penambang ilegal tersebut akan melarikan diri menuju Jawa.

Bila terbukti bersalah, para pelaku terancam dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman penjara 12 tahun.

Semoga semua bisa berakhir dengan damai dan tidak terjadi lagi penentangan dari warga atas tindakan penertiban yang dilakukan pihak yang berwajib.


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Simpel News, Published at 06.49 and have 0 komentar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar